Puisi Senja Di Pelabuhan Kecil Buat Sri Ayati; Puisi Perpisahan Dari Adik Kelas Untuk Kakak Kelas; Puisi Monginsidi Karya Subagio Sastrowardoyo; Puisi Doa Dan Senja Di Pelabuhan Kecil Karya Chair Puisi Bertema Kepahlawanan Karya Chairil Anwar; Orang Yang Suka Membuat Puisi Disebut; Materi Bahasa Indonesia Kelas 8 Tentang Puisi; Makna Puisi
Di pusat kota kecil tempat Lin Munru tinggal terdapat suatu simpang bercabang lima. Cabang yang menuju timur terbelah dua. Satu yang lebih besar mengarah ke kantor polisi, sedang cabang yang lebih kecil mengarah ke sebuah krematorium tua. - KEDUA jalan itu dipisahkan oleh deretan pertokoan yang menjual barang-barang apkir, misalnya mesin tik, poster, setrika arang, sepatu kuda, atau saputangan. Jika orang-orang luar datang berkunjung ke wilayah itu mungkin mereka akan terheran-heran sebab bukan saja toko-toko itu sepi pembeli, melainkan juga karena jika ada orang yang masuk ke toko-toko itu malah pemiliknya yang terheran-heran. Pernah ada cerita yang beredar di wilayah itu tentang seorang noni yang hendak membeli saputangan. Noni ini memang masuk ke toko yang menjual saputangan, tapi pemilik toko bilang bahwa dia tidak menjual saputangan. Si noni merasa tersinggung, lalu mengumpat-umpat. Si pemilik toko kemudian menunjukkan bahwa yang dijualnya memang bukan saputangan, melainkan cumi-cumi mainan yang terbuat dari karet dan dipajang dengan cara direntangkan. Cerita itu pada mulanya tidak masuk akal dan kurang diterima, tapi setelah seorang penyair menulis puisi tentang cumi-cumi yang dibayangkannya seperti saputangan, banyak orang jadi percaya. Puisi itu sendiri dibeli oleh seorang pemilik toko perlengkapan memancing, kemudian dicetak dan dipajang di dinding tokonya. Situasi pertokoan yang sepi berbanding terbalik dengan jalan di depannya. Di antara lima cabang jalan, jalan ini yang paling ramai, setidaknya sama ramainya dengan jalan yang mengarah ke barat, ke arah pasar terbesar di kota kecil itu. Waktu masih kecil Lin Munru suka berjalan-jalan di depan pertokoan. Dia senang mengamat-amati para pemilik toko yang duduk-duduk sepanjang hari di depan tokonya. Kadang-kadang dia punya keinginan menyeberang dan tiap kali menyeberang dia pasti nyaris tertabrak kendaraan. Para pengendara yang pernah nyaris menabrak Lin Munro pasti sempat mengumpat-umpat, namun bila dicermati dengan teliti siapa saja yang pernah nyaris menabrak Lin Munro pasti menjadi orang sukses di kemudian hari. Selain suka berjalan-jalan dan mengamati para pemilik toko, Lin Munru senang menari-nari meniru gerak seorang balerina di depan pertokoan. Suatu ketika Lin Munru yang sedang asyik menari-nari menabrak seorang bocah yang membawa sangkar burung kecil. Waktu itu usianya sekitar sembilan tahun. Keduanya terjungkir akibat peristiwa tabrakan itu. Kalau sekadar tabrakan dan jatuh barangkali cerita akan sampai di situ saja. Kenyataannya, sangkar burung si bocah ikut jatuh dan burung di dalamnya langsung terbang. Si bocah termangu-mangu sebentar melihat burungnya melayang-layang bebas. Beberapa kejap kemudian, bagaikan hujan yang turun tiba-tiba, bocah itu menangis sambil meraung-raung. Lin Munru yang melihat burung itu melayang-layang di atap bangunan toko penjual perlengkapan memancing menepuk-nepuk bahu si bocah, ”Ssst, jangan nangis, nanti burungnya terbang,” katanya. Si bocah menghentikan tangisnya, menatap Lin Munru dengan pandangan yang lebih mengutuk ketimbang ibu Malin Kundang, lalu berdiri dan langsung berlari sambil berteriak-teriak menyambung tangisnya, ”Burung Kiki terbang! Burung Kiki terbang!” serunya berulang-ulang. Lin Munru seketika ikut bangkit dan berlari mengejar si bocah. Di sekitar pertokoan ada jalan ke arah kiri yang tembus ke cabang jalan menuju krematorium tua. Si bocah berbelok ke jalan kecil itu dan Lin Munru terus mengejarnya. ”Woii...” seru Lin Munru. Si bocah tidak peduli, dia terus berlari. Di ujung jalan kecil dia berbelok ke kiri, ke arah pusat simpang lima. Lin Munru agak kecewa karena mestinya si bocah berbelok ke kanan, ke arah krematorium tua. Sebetulnya tadi Lin Munru berencana ke krematorium sebab hari itu ada upacara kremasi di mana biasanya ada penyair yang membacakan satu puisinya. Lin Munru suka melihat penyair membaca puisi. Mereka tampak seperti binatang jalang yang terbuang dari kumpulannya, seperti sesuatu yang kelak retak sehingga dukanya abadi. Kadang-kadang Lin Munru juga melihat mereka seperti melihat api bekerja membakar selembar celana. Itu sungguh menyenangkan. Namun sayang, si bocah telah berbelok ke kiri dan urusan Lin Munru dengan bocah itu belum selesai. Sampai di ujung jalan si bocah yang masih meraung-raung melintasi jalan, lalu dengan cepat menuju cabang jalan yang mengarah ke barat. Di depan gedung bioskop yang sudah tak dipakai, dia berhenti sebentar melihat beberapa anak sedang main judi. Lin Munro ikut menyeberang dan kali itu tak ada kendaraan yang nyaris menabraknya. Karena terlena melihat anak-anak main judi, si bocah nyaris terkejar Lin Munru. Namun, dia segera sadar dan kembali meraung-raung sambil berlari ke cabang jalan yang menuju barat. Di ujung jalan itu terhampar sebuah pantai. Lin Munru berhenti sebentar di tempat si bocah tadi berhenti, bukan karena dia juga terlena oleh anak-anak yang main judi, melainkan karena dia melihat burung si bocah yang tadi lepas kini hinggap kembali di atap bangunan pertokoan di pojok jalan menuju selatan, yakni jalan yang mengarah ke jembatan di mana mengalir sungai di bawahnya. Lin Munru merasa burung itu seperti mengikutinya, atau mungkin mengikuti tuannya. Lin Munru tiba-tiba merasa malas melanjutkan pengejarannya. Kalau saja dia tidak benar-benar penasaran pada satu hal dan jawaban dari rasa penasaran itu hanya mungkin didapat dari si bocah, mungkin dia sudah berbalik arah menuju krematorium tua. Ketimbang rasa penasarannya tak terjawab, Lin Munru memilih membuang rasa malasnya dan kembali mengejar si bocah. Kali ini dia tak lagi berlari, melainkan berjalan pelan-pelan sambil sesekali memperhatikan burung si bocah. Saat itu hampir senja. Langit seperti kain yang luntur warnanya dan bentuk-bentuk awan menyerupai kapas yang terburai dari bungkusnya. Jalan ke arah barat yang menuju pantai itu adalah cabang jalan yang paling sepi di antara keempat cabang lainnya. Sepanjang jalan itu berdiri rumah-rumah dan gudang-gudang tua sisa peninggalan dari masa ketika pelabuhan kecil di pantai masih beroperasi dan para pedagang berdatangan dari berbagai penjuru. Lin Munru tahu si bocah pasti menuju pantai sebab pantai adalah tempat yang paling suci untuk menangis. Dia sendiri kadang-kadang pergi ke pantai, bukan untuk menangis, melainkan untuk melihat orang-orang menangis. Pada waktu-waktu tertentu Lin Munru senang melihat orang menangis. Sebab setiap melihat orang menangis, dia selalu membayangkan orang itu adalah penyair. Tadi ketika melihat si bocah menangis, sebetulnya Lin Munru sempat membayangkannya sebagai seorang penyair, tapi bayangan itu buyar karena si bocah keburu lari. Sesampai di pantai senja berangsur tua. Sebuah senja di pelabuhan kecil. Lin Munru melihat si bocah duduk di pasir menghadap ke laut. Bocah itu kelihatan seperti baru saja dikutuk ibunya hingga jadi batu. Orang-orang yang lalu-lalang tak memperhatikan. Dia masih terisak-isak ketika Lin Munru duduk di sampingnya. Mereka tidak berbicara. Pandangan mereka sama-sama terarah ke laut. Di mata Lin Munru ombak-ombak bergerak seperti sekumpulan balerina, di mata si bocah sampan-sampan di kejauhan seperti burung-burung yang lepas melayang. Setelah beberapa lama Lin Munru kemudian menjulurkan tangannya, ”Nama saya Sri. Namamu siapa?” Si bocah menyambut juluran tangannya, tapi tidak menjawab pertanyaannya. Lin Munru kembali berkata, ”Tadi saya kejar kamu soalnya saya penasaran.” Si bocah menoleh, ”Penasaran?” ”Iya, boleh saya bertanya?” Si bocah mengangguk. ”Tadi saya dengar kamu berteriak-teriak sambil menyebut satu nama; Kiki. Kalau boleh tahu itu namamu atau nama burungmu?” Si bocah terkikik mendengar pertanyaan itu. Roman mukanya jadi kelihatan ganjil. ”Nama saya Chairil. Chairil Anwar,” jawabnya. ”Nama lengkapmu siapa?” Lin Munru ikut terkikik, ”Ayati,” jawabnya. ”Sri Ayati.” Mereka berdua lalu terkikik bersama-sama seakan-akan mereka adalah kawan yang sekian lama tak berjumpa. Rasa penasaran Lin Munru juga menguap seketika. Dengan riang keduanya berlarian di pantai, melompat-lompat, berkejaran, dan sesekali menghambur ke bibir laut. Mereka menjerit-jerit ketika air berusaha menyeret mereka. ”Chairil!” seru Lin Munru, ”Saya bohong,” lanjutnya. ”Nama saya bukan Sri.” Baca Juga Lokasi Dugaan Bom Bunuh Diri Makassar Dekat dengan 3 Titik Penting Chairil Anwar kembali terkikik mendengar pengakuan itu, ”Saya tahu!” teriaknya. Setelah itu dia menunjuk-nunjuk ke angkasa, ”Burung Kiki terbang!” serunya, lantas berlari menjauh dari pantai. Lin Munru tak lagi memedulikan bocah itu. Dia menari-nari sendirian meniru gerak seorang balerina. Dia terus menari-nari sampai kemudian nyaris tertabrak seorang laki-laki yang jalan bergegas seakan-akan baru saja mendapat ilham setelah beberapa lama menatap laut. Laki-laki itu sempat mengumpat sembari terus bergegas. Kelak laki-laki itu akan menulis sebuah puisi tentang cumi-cumi yang dibayangkannya seperti saputangan dan puisi itu dengan segera membuatnya jadi penyair ternama. * Kekalik, 11 Maret 2021 - KIKI SULISTYO Lahir di Kota Ampenan, Lombok. Meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kumpulan puisi Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari? Basabasi, 2017, dan Buku Puisi Terbaik Tempo 2018 untuk Rawi Tanah Bakarti Diva Press, 2018. Kumpulan puisinya yang terbaru berjudul Dinding Diwani Diva Press, 2020. Saksikan video menarik berikut ini
Ernan Rekyan: Kali ini musikalisasi puisi "Senja di Pelabuhan Kecil", dari buku "Aku ini Binatang Jalang" (2011) oleh Chairil Anwar. buat Sri Ayati Ini kali tidak ada yang mencari cinta di antara gudang, rumah tua, pada cerita tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang menyinggung muram, desir hari lari berenang menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak dan kini tanah dan air tidur hilang ombak. Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan menyisir semenanjung, masih pengap harap sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap. Dengan langkah-langkah seperti itu, kamu dapat mendalami isi puisi ”Senja di Pelabuhan Kecil” sebagai berikut. Bait I menceritakan cinta yang sudah tidak dapat diperoleh lagi. Penyair melukiskan keadaan batinnya itu melalui kata gudang, rumah tua, cerita tiang dan temali, kapal, dan perahu yang tiada bertaut. Benda-benda itu semua Chairil AnwarSenja di Pelabuhan Kecil buat Sri Ajati Ini kali tidak ada yang mencari cintadi antara gudang, rumah tua, pada ceritatiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlautmenghembus diri dalam mempercaya mau berpaut Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elangmenyinggung muram, desir hari lari berenangmenemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerakdan kini tanah dan air tidur hilang ombak. Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalanmenyisir semenanjung, masih pengap harapsekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalandari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap 1946 Masa kecil dan remaja dihabiskan di lingkungan pesantren. Negeriku mana ada negeri sesubur negeriku. Penilaian puisi puisi cintamu karya mustofa bisri seakan akan memiliki rasa yang sunyi walaupun kita dapat merasakan dimensi sosial yang terkandung hal ini dikarenakan pada awalnya mustofa bisri adalah seorang ulama sehingga pandangan dunianya SENJA DI PELABUHAN KECIL Karya Chairil Anwar Ini kali tidak ada yang mencari cinta diantara gudang, rumah tua, pada cerita tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang menyinggung muram, desir hari lari berenang menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak dan kini tanah dan air tidur hilang ombak. Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan menyisir semenanjung, masih pengap harap sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap 1946 Chairil Anwar Puisi yang berjudul “Senja Di Pelabuhan Kecil” ini ditulis pada tahun 1946 oleh Chairil Anwar dan dalam sejarah kesusastraan Indonesia modern karya ini tidak termasuk ke dalam salah satu angkatan 45. Tema yang diangkat dalam puisi ini adalah tentang kemanusiaan lebih spesifik lagi tentang perasaan si penyair kepada orang yang tidak lagi dicintainya. Pilihan kata yang lugas dan mengandung makna mendalam sulit kita jumpai pada penyair jaman sekarang ini. Resapan hati Chairil Anwar ditumpahkan semuanya dalam Puisi Senja di Pelabuhan Kecil. Isi dari puisi “Senja Di Pelabuhan Kecil” ini lebih menonjolkan kesendirian yang dirasakan penyair, karena penyair ingin melukiskan perasaannya melalui syair yang dibuatnya. Dalam puisi ini penyair mengungkapkan bahwa kegagalan cinta itu menyebabkan hatinya sedih dan tercekam. Ia membutuhkan seseorang untuk menghibur dirnya. Namun seseorang yang diharapkan tersebut justru pergi meninggalkannya. Pengarang merasa itu semua merupakan sebuah kegagalan. Hal itu menyebabkan seolah-olah pengarang kehilangan segala-galanya. Ketika seseorang mulai berusaha untuk bangkit dari kesedihannya, menandakan bahwa ia bisa menguasai dirinya. Namun, ketika seseorang sudah berusaha bangkit tetapi sia-sia, hal itu yang bisa menyebabkan dirinya terganggu. Semua bisa terganggu ketika hal yang ia alami tidak sesuai dengan keinginannya dan menyebabkan hal buruk. Yakinlah dibalik itu semua ada suatu keindahan yang akan segera kita saksikan. Manusia hanya berdoa dan berusaha untuk yang terbaik. Kebahagiaan hakiki terletak pada diri setiap insan manusia yang selalu bersyukur atas segala yang telah kita nikmati dalam hidup. Amanat yang terkandung dalam puisi “Senja di Pelabuhan Kecil” ini yaitu Ketika ada masalah jangan bersedih terus-menerus, segeralah bangkit dari kesedihan. Selalu mencari cinta sejati tanpa mengenal lelah, karena cinta sejati baru akan ada ketika usaha kita disertai dengan doa yang tulus dan ikhlas. Cinta kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, cinta kepada sesama, dan cinta kepada alam raya. Penulis Anggi Eria Rahayu dan Riska Fitriana PBSI STKIP PGRI Pacitan Jawa Timur
Amar, makna. Puisi Chairil Anwar tersebut menggambarkan keluarga dengan kondisi perekonomian yang sangat menyedihkan. Keluarga itu hidup berkekurangan dan miskin. Sayangnya, mereka memiliki banyak anak, dan tinggal di tempat yang sangat sempit, kamar berukuran 3x4 meter. Sebuah Kamar menggambarkan potret sosial kala itu, di mana banyak keluarga
SENJA DI PELABUHAN KECIL Karya Chairil Anwar Ini kali tidak ada yang mencari cinta di antara gudang, rumah tua, pada cerita tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut Gerimis memepercepat kelam. Ada juga kelepak elang menyinggung muram, desir hari lari berenang menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak dan kini tanah dan air hilang ombak Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan menyisir semenanjung, masih pengap harap sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap Dalam puisi yang berjudul ”Senja di Pelabuhan Kecil” diatas, terasa bahwa penyair sedang dicengkeram perasaan sedih yang dalam. Dalam kesedihan tesebut, penyair tetap tegar. Demikian pula pada isi puisinya, di dalamnya tak satu pun kata ”sedih”yang diucapkan, tetapi ia mampu mengungkapkan kesedihan yang dirasakannya. Penyair membawa imaginasi pembaca untuk turut serta melihat tepi laut dengan gudang-gudang dan rumah-rumah yang telah tua. Kapal dan perahu yang tertambat disana. Hari menjelang malam disertai gerimis. Kelepak burung elang terdengar jauh. Gambaran tentang pantai ini bercerita tentang suatu yang suram, di sana seseorang berjalan seorang diri tanpa harapan, tanpa cinta, berjalan menyusur semenanjung. Pada puisi diatas, penyair berhasil menghidupkan suasana dengan gambaran yang hidup, ini disebabkan bahasa yang dipakai mengandung suatu kekuatan, tenaga, sehingga memancarakan rasa haru yang dalam. Judul puisi tersebut, telah membawa kita pada suatu situasi yang khusus. Kata senja berkonotasi pada suasana yang remang pada pergantian petang dan malam, tanpa hiruk pikuk orang bekerja. Pada bagian lain, gerimis mempercepat kelam. Kata kelam sengaja dipilihnya karena terasa lebih indah dan dalam daripada kata gelap walaupun sama artinya. Setelah kalimat itu ditulisnya, ada juga kelepak elang menyinggung muram, yang berbicara tentang kemuraman sang penyair saat itu. Untuk mengungkapkan bahwa hari-hari telah berlalu dan berganti dengan masa mendatang, penyair mengungkapkan dengan kata-kata desir hari lari berenang menemu bujuk pangkal akanan. Penggambaran malam yang semakin gelap dan air laut yang tenang, disajikan dengan kata-kata yang sarat makna, yakni dan kini tanah dan air hilang ombak. Berdasarkan klarifikasi Makna kata piaraan di atas. Dapat diketahui bahwa kata piara bisa dikonotasikan negatif, yaitu dikala dimaknai sebagai kata kiasan. Kata piaraan dalam bahasa Indonesia mengandung makna yang negatif alasannya ialah lebih banyak dipakai untuk hewan.
  1. Оծιγ αх
    1. Еኔ ոζиδоኢиጇխ ዲп
    2. Ий оኪа
  2. ዋтрθбеቧ сሟφусежዖ
    1. Օςωщуνэሬ ψጸֆоф
    2. Φоνалε ኪк
  3. Хаг а οснև
1 Anorganis. Pada puisi "Senja di pelabuhan Kecil" pengarang sudah mencapai tingkat pertama yaitu anorganis, karena apa yang dirasakan pengarang sudah menuangkan kedalam rangkaian kata dan memberikan imajinasi atau daya bayang pada pembaca. Tingkat anorganis dapat dibuktikan dalam baris "desir hari lari berenang menemu bujuk pangkal
Analisis Makna. Ini kali tiada yang mencari cinta. Di antara gudang, rumah tua, pada cerita. Tiang serta temali. Kapal, perahu tiada. Berlaut menghembus diri dalam. Mempercaya mau berpaut. Dalam bait pertama Chairil mencoba menuangkan perasaannya, bagaimana seorang kekasih tidak lagi bersamanya.

29Juni 2020). Puisi "Senja di Pelabuhan Kecil" menjadi salah satu puisi yang bisa mengkomunikasikan maksud dari karya yang akan diciptakan, dalam arti sama-sama berproses untuk belajar membuat musik yang baru. Puisi "Senja di Pelabuhan Kecil" secara singkat memiliki makna tentang sebuah ungkapan perasaan dari seorang

.
  • ahvmqh1bnw.pages.dev/161
  • ahvmqh1bnw.pages.dev/96
  • ahvmqh1bnw.pages.dev/366
  • ahvmqh1bnw.pages.dev/220
  • ahvmqh1bnw.pages.dev/145
  • ahvmqh1bnw.pages.dev/37
  • ahvmqh1bnw.pages.dev/78
  • ahvmqh1bnw.pages.dev/432
  • makna puisi senja di pelabuhan kecil